Tuesday, February 13, 2007

Ibnu Taimiyyah menyembunyikan keyakinan?


Ibnu Taimiyyah menyembunyikan keyakinan2 ini dengan label keyakinan salaf. Dia membuat kebohongan atas salaf dan berlindung kepada mereka, dengan tujuan untuk menyembunyikan kejelekan2 keyakinannya.



Syahrestani membantah pengakuan Ibnu Taimiyyah yang mengatakan bahwa mazhabnya adalah mazhab salaf di dalam kitabnya al-Milal wa an-Nihal,"Sekelompok orang2 terkemudian bersikap berlebihan atas apa yang telah dikatakan oleh kalangan salaf. Mereka mengatakan, 'Ayat2 ini
mau tidak mau harus diterapkan pada makna zhahirnya', sehingga
mereka pun jatuh ke dalam paham tasybih semata. Yang demikian itu
jelas bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh kalangan salaf.
Paham tasybih hanya ada pada orang-orang Yahudi, namun tidak pada
seluruh mereka," [Al-Milal wa an-Nihal, hal 84]

Ibnu Taimiyyah telah menipu masyarakat umum dengan generalisasi yang
dia lakukan. Sebagai contoh, dia mengatakan, "Adapun yang saya
katakan dan tulis sekarang, meskipun saya belum pernah me-nuliskannya pada jawaban2 saya yang telah lalu, namun saya sudah
sering mengatakan di majlis2, 'Sesungguhnya berkenaan dengan seluruh
ayat sifat yang terdapat di dalam Al-Qur'an, tidak terdapat
perselisihan di kalangan para sahabat di dalam pentakwilannya. Saya
telah membaca berbagai tafsir yang ternukil dari para sahabat,
begitu juga hadis2 yang mereka riwayatkan, dan saya juga telah
menelaah banyak sekali kitab2 baik yang besar maupun yang kecil,
yang jumlahnya lebih dari seratus kitab tafsir, namun saya belum
menemukan seorang pun dari para sahabat, hingga saat ini, yang
mentakwil ayat2 sifat atau hadis2 sifat dengan sesuatu yang
bertentangan dengan pengertiannya yang sudah dikenal." [Tafsir Surah an-Nur, Ibnu Taimiyyah, hal 178 - 179]

Dengan cara inilah masyarakat umum membenarkan perkataannya. Namun,dengan sedikit saja kita merujuk kepada kitab-kitab tafsir ma 'tsurah niscaya akan tampak bagi kita kebohongan Ibnu Taimiyyah. Apakah itu di dalam ketidak-merujukkannya kepada kitab-kitab tafsir, atau di dalam pengklaimannya akan tidak adanya takwil dari para sahabat berkenaan dengan ayat2 sifat. Saya kemukakan beberapa contoh berikut ini: Jika kita merujuk ke dalam kitab tafsir ath-Thabari, yang oleh Ibnu Taimiyyah digambarkan sebagai berikut, "Di dalamnya tidak terdapat bid'ah, dan tidak meriwayatkan dari orang-orang yang menjaditertuduh." [Al-Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir, hal 51]

Ketika kita merujuk kepada ayat kursi, yang oleh Ibnu Taimiyyah
dianggap termasuk salah satu ayat sifat yang terbesar, sebagaimana
yang dia katakan di dalam kitab al-Fatawa al-Kabirah, jilid 6, hal
322, Thabari mengemukakan dua riwayat yang bersanad kepada Ibnu
Abbas, berkenaan dengan penafsiran firman Allah SWT yang berbunyi, "Kursi Allah meliputi langit dan bumi. " Thabari berkata, "[i]Para ahli takwil berselisih pendapat tentang arti kursi. Sebagian mereka berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ilmu Allah. Orang yang berpendapat demikian bersandar kepada Ibnu Abbas yang mengatakan, 'Kursi-Nya adalah ilmu-Nya.' Adapun riwayat lainnya
yang juga bersandar kepada Ibnu Abbas mengatakan, 'Kursi-Nya adalah
ilmu-Nya. Bukankah kita melihat di dalam firman-Nya, 'Dan Allah
tidak merasa berat memelihara keduanya. '"[/i][Tafsir ath-Thabari, jld
3, hal 7]

Perhatikanlah, betapa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah tidak lain
kebohongan yang nyata. Dia mengatakan, "Kalangan salaf tidak berbeda pendapat sedikit pun di dalam masalah sifat", padahal Thabari
mengatakan, "Para ahli takwil berbeda pendapat". Ibnu Taimiyyah juga mengatakan, "Saya tidak menemukan hingga saat sekarang ini seorang sahabat yang mentakwil sedikit saja ayat-ayat sifat", disertai dengan pengakuannya bahwa dia telah merujuk seratus kitab tafsir, padahal Thabari menyebutkan dua riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas.
Berikut ini contoh yang kedua, yang masih berasal dari kitab tafsir
Thabari. Pada saat menafsirkan firman Allah SWT yang berbunyi, "Dan
Allah Mahatinggi dan Mahabesar", Thabari berkata, "Para pengkaji
berbeda pendapat tentang makna firman Allah SWT yang berbunyi, 'Dan
Allah Mahatinggi dan Mahabesar.' Sebagian mereka berpendapat, 'Artinya ialah, 'Dan Dia Mahatinggi dari padanan dan bandingan.' Mereka menolak bahwa maknanya ialah 'Dia Mahatinggi dari segi tempat.' Mereka mengatakan, Tidaklah boleh Dia tidak ada di suatu tempat. Maknanya bukanlah Dia tinggi dari segi tempat. Karena yang demikian berarti menyifati Allah SWT ada di sebuah tempat dan tidak ada di tempat yang lain.'"[Tafsir ath-Thabari, jld 3, hal 9]

Demikianlah pendapat kalangan salaf. Sedangkan Ibnu Taimiyyah telah memilih jalan yang lain bagi dirinya, namun kemudian dia tidak menemukan orang yang mendukung jalannya, maka dia pun menisbahkan jalannya kepada salaf. Padahal kita melihat kalangan salaf tidak mempercayai keyakinan tempat bagi Allah SWT, sementara Ibnu Taimiyyah mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi untuk membuktikan keyakinan tempat bagi Allah SWT, di dalam risalah yang ditujukannya bagi penduduk kota Hamah.

Bahkan, tatkala dia sampai kepada firman Allah SWT yang
berbunyi, "Sesungguhnya Allah SWT bersemayam di atas '`Arsy", dia mengatakan, "Sesung-guhnya Dia berada di atas langit." Yang dia maksud adalah tempat. [Al-'Aqidah al-Hamawiyyah al-Kubra, yang
merupakan kumpulan surat-surat Ibnu Taimiyyah, hal 329 - 332].

Adapun di dalam kitab tafsir Ibnu 'Athiyyah, yang oleh Ibnu Taimiyyah
dianggap sebagai kitab tafsir yang paling dapat dipercaya, disebutkan
beberapa riwayat Ibnu Abbas yang telah disebutkan oleh Thabari di
dalam kitab tafsirnya. Kemudian, Ibnu 'Athiyyah memberi-kan komentar
tentang beberapa riwayat yang disebutkan oleh Thabari, yang dijadikan
pegangan oleh Ibnu Taimiyyah, "Ini adalah perkataan-perkataan bodoh
dari kalangan orang-orang yang mempercayai tajsim. Wajib hukumnya
untuk tidak menceritakannya." [Faidh al-Qadir, asy-Syaukani]
Berikut ini adalah bukti lainnya berkenaan dengan penafsiran firman
Allah SWT yang berbunyi, "Segala sesuatu pasti binasa kecuali
wajah-Nya" (QS. al-Qashash: 8Cool, dan juga firman Allah SWT yang
ber-bunyi, "Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu, yang mempunyai kebesarandan kemuliaan" (QS. ar-Rahman: 27), di mana dengan perantaraan kedua ayat ini Ibnu Taimiyyah menetapkan wajah Allah SWT dalam arti yang sesungguhnya.

Thabari berkata,"Mereka berselisih tentang makna firmanNya, 'kecuali wajah-Nya."' Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud ialah, segala sesuatu pasti binasa kecuali Dia. Sementara sebagian lain berkata bahwa maknanya ialah, kecuali yang dikehendaki wajah-Nya, dan mereka mengutip sebuah syair untuk mendukung takwil mereka, "Saya memohon ampun kepada Allah dari dosa yang saya tidak mampu menghitungnya Tuhan, yang kepada-Nya lah wajah dan amal dihadapkan." [Tafsir ath-Thabari, jld 2, hal 82].

Al-Baghawai berkata, "Yang dimaksud dengan 'kecuali wajah-Nya' ialah
'kecuali Dia'. Ada juga yang mengatakan, 'kecuali kekuasaan-Nya'."
Abul 'lyalah berkata, "Yang dimaksud ialah 'kecuali yang dikehandaki
wajah-Nya'. [Tafsir al-Baghawi]

Di dalam kitab ad-Durr al-Mantsur, dari Ibnu Abbas yang berkata,
"Artinya ialah 'kecuali yang dikehendaki wajah-Nya'."Dari Mujahid
yang berkata, "Yang dimaksud ialah 'kecuali yang dikehendaki
wajahnya.'" Dari Sufyan yang berkata, "Yang dimaksud ialah 'kecuali yang dikehendaki wajah-Nya, dari amal perbuatan yang saleh'."

Inilah pendapat kalangan salaf yang sesungguhnya. Lantas, atas dasar
apa Ibnu Taimiyyah mengatakan tentang keyakinannya, "Ini adalah
keyakinan kalangan salaf "????.

Jangan Anda katakan kepadanya kecuali firman Allah SWT yang berbunyi,
"Mengapa Anda mencampur-adukkan yang hak dengan yang batil, dan
menyembunyikan kebenaran, padahal Anda mengetahui?" (QS.Ali 'lmran: 71) "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kamiturunkan berupa keterangan2 (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kamimenerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknatiAllah dan dilaknati (pula) oleh orang-orang yang melaknati. " (QS.al-Baqarah: 159).

Oleh karena itu, para ulama semasanya tidak tinggal diam atas perkataan2nya. Mereka memberi fatwa tentangnya dan memerintahkan
manusia untuk menjauhinya. Hingga akhirnya Ibnu Taimiyyah dipenjara,
dilarang menulis di dalam penjara, dan kemudian meninggal dunia di
dalam penjara di kota Damaskus, dikarenakan keyakinan2 sesatnya dan
pikiran2 ganjilnya. Banyak dari kalangan para ulama dan huffadz yang
telah menulis kitab untuk membantah keyakinan-keyakinannya.


0 Comments: