Tuesday, February 13, 2007

Kitab yang membantah keyakinan- Ibnu Taimiyyah


Di dalam kitab ad-Durar al-Kaminah, karya Ibnu Hajar al-'Asqalani,
jilid 1, halaman 141 disebutkan, "Dari sana sini orang menolaknya.
Tidaklah kebohongan dan pikiran-pikiran ganjil yang diciptakan oleh
tangannya yang berlumuran dosa itu berasal dari Al-Qur'an, sunah,
ijmak dan qiyas.



Dan di kota Damaskus diumumkan, 'Barangsiapa yang
berpegang kepada akidah Ibnu Taimiyyah, darah dan hartanya halal.'"
Al-Hafidz Abdul Kafi as-Subki telah berkata tentangnya. Dia juga
telah menulis sebuah kitab yang membantah keyakinan-keyakinan Ibnu
Taimiyyah, yang diberinya judul Syifa al-Asqamfi Ziyarah Khair al-
Anam 'alaihi ash-Shalah wa as-Salam.

Al-Hafidz Abdul Kafi as-Subki telah berkata di dalam pengantar
kitabnya, yang berjudul ad-Durrah al-Mudhi'ahfi ar-Radd 'ala Ibnu
Taimiyyah, "Manakala Ibnu Taimiyyah membuat sesuatu yang baru
(bid'ah) di dalam bidang dasar2 keyakinan (ushul al-'aqa'id), dan
merusak pilar2 Islam, setelah sebelumnya dia bersembunyi dengan
slogan mengikuti Al-Qur'an dan sunah, menampakkan diri sebagai
penyeru kepada kebenaran, dan petunjuk kepada jalan surga, maka dia
telah keluar dari mengikuti Al-Qur'an dan sunah kepada membuat
bid'ah, menyimpang dari jamaah kaum Muslimin dengan meyalahi ijmak,
dan mengatakan sesuatu yang menuntut timbulya keyakinan tajsim dan
tarkib pada Zat Yang Mahasuci, dan keyakinan yang mengatakan bahwa
butuhnya Allah SWT kepada bagian-Nya bukanlah sesuatu yang
mustahil." [Al-Milal wa an-Nihal, jld 4, hal 42, Syahrestani]
Berpuluh-puluh ulama telah mengecam dan memprotesnya. Namun kita
tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk mengemukakan dan meneliti
perkataan-perkataan mereka satu persatu. Pada kesempatan ini kita
cukup mengemukakan apa yang telah dikatakan oleh Syihabuddin Ibnu
Hajar al-Haitsami.

Syihabuddin Ibnu Hajar al-Haitsami berkata di dalam biografi Ibnu
Taimiyyah, "Ibnu Tamiyyah adalah seorang hamba yang telah
dipermalukan oleh Allah, telah disesatkan-Nya, telah dibutakan-Nya,
telah dibisukan-Nya dan telah dihinakan-Nya. Oleh karena itu, para
imam secara terang-terangan menjelaskan kejelekan-kejelakan
keadaannya, dan mendustakan perkataan-perkataannya. Barangsiapa yang
ingin mengetahui hal itu, dia harus menelaah Imam al-Mujtahid, yang
disepakati keimamahan dan derajat kemujtahidannya, yaitu Abul Hasan
as-Subki, dan juga putranya, Syeikh al-Imam al-'Izz bin Jamaah, yang
merupakan ahli jamannya.

Ibnu Taimiyyah tidak hanya mengecam generasi salaf ter-akhir dari
kalangan sufi, melainkan juga mengecam orang seperti Umar bin
Khattab ra dan Ali bin Abi Thalib ra. Alhasil, perkataan Ibnu
Taimiyyah tidak dapat dijadikan ukuran, melainkan harus dicampak-kan
dengan penuh kehinaan. Abul Hasan as-Subki berkata, 'lbnu Tamiyyah
adalah pembuat bid'ah, sesat, menyesatkan, dan berlebih-lebihan.
Semoga Allah memperlakukannya dengan keadilan-Nya, dan melindungi
kita dari jalan, keyakinan dan perbuatan seperti jalan, keyakinan
dan perbuatannya. Amin!" [Al-Milal wa an-Nihal, jld 4, hal 42]


0 Comments: