Daripada kenyataan As -Syawkani tersebut kita memahami:
Takwil Ijmali dan Tafsili ada dasarnya. Pengambilannya berasal daripada Ulamak Salaf yang terdiri dari Para Sahabat r. anhum.
2) Tanpa melakukan sebarang Takwil sebagaimana Kaedah yang dibawa oleh Salafi Wahabbi adalah merupakan kaedah golongan Mujassimah .
3) Perkataan Syawkani: أن لها تأويلا memahamkan:
a. “Bahawa ia mempunyai Takwil,” --------- Takwil Ijmali.
b. “Tetapi kami menahankan diri daripadanya serta membersihkan akidah kami daripada
tasybih dan takwil”,--------------------- Takwil Tafsili.
Dibawah ini didatangkan Risalah Menolak Fahaman Tajsim dan Akidah Syubhat.
TAKWIL TAFSILI, KEHARUSAN DAN IKHTILAFNYA
As-Syawkaani telah menulis di dalam Kitab Irsyaadul Fuhul, Usul Fiqh beliau m.s 176:
“Perkara yg masuk di dalamnya takwil terbahagi kepada dua:
Pertama :Kebiasaanya didalam masalah furu’, tiada khilaf pada keharusannya.
Kedua : Perkara usul seperti aqidah–aqidah dan usul agama dan sifat- sifat Tuhan Azza Wa Jalla .
Berikhtilaf ulama pula pada bahagian kedua ini di atas tiga mazhab.
Mazhab Pertama : Tiada kemasukkan Takwil padanya bahkan berlaku di atas zahirnya dan tidak ditakwil sesuatu pun daripadanya (samada Ijmali maupun Tafsili). Ini adalah Qaul golongan Musyabihhah/Mujasimmah.
Mazhab Kedua:Mempunyai Takwil tetapi kami menahankan diri daripadanya serta membersihkan iktikad kami daripada tasybih dan takwil, berdasarkan firman Allah Ta'ala
“Tiada mengetahui takwil melainkan Allah”. Berkata Ibnu Burhan ini Mazhab Salaf . Aku berkata ini ialah jalan yang terang dan method yang selamat daripada terjatuh ke dalam kecenderongan takwil kerana tiada yg mengetahui akan takwilnya melainkan Allah. Memadalah Salafu Soleh sebagai ikutan untuk sesiapa yang hendak mengikut dan sebagai contoh untuk sesiapa yang kasih mencontohi (ini adalah jika) ditakdirkan tiada kedatangan dalil yang menghukumkan tegahan takwil. Betapa pula tidak dikatakan (ia lebih selamat) , ini adalah jalan yang selamat padahal ialah yang teguh terdapat di dalam Kitab dan Sunnah .
Mazhab yang Ketiga: Bahawasa diTakwilkan.
Berkata Ibnu Burhan: "Qaul yang pertama daripada semua Mazhab ini adalah batil dan dua qaul yang kemudian adalah dinaqalkan daripada Sahabat r. anhum. Dan dinaqalkan Mazhab yang ketiga (terakhir) ini, dinukil daripada Saidina Ali, Ibnu Masud, Ibnu Abbas dan Ummu Salamah".
Abu Umar bin Solah (Ibnu Solah) berkata: Manusia pada perkara– perkara yang memahamkan jihat (arah/pihak dan seumpamanya) terdapat tiga kumpulan .
Pertama:Kumpulan yg mentakwilkan.
Kedua: Kumpulan yg mentasybihkan (menyerupakan Tuhan dengan Makhluk) .
Ketiga: Golongan yang berpendapat bahawa syara’ tidak memakaikan lafaz (mutasyabihat) seperti ini melainkan kepada pengunaan yang harus dan baik penerimaannya secara mutlak seperti mana yang telah berkata mereka, serta Penjelasan, mensucikan , membersihkan dan bebas dari batasan dan penyerupaan . Diatas Jalan ini, telah melalui Imam-imam terawal dikalangan Fuqoha dan pengikut-pengikut mereka, dan kepadanya juga telah menyeru oleh Imam Hadis dan Pemuka-pemukanya. Tidak ada seorang pun dikalangan Mutakalimin yang melencong dari jalan ini. Tiada yang enggan menurutinya. Imam Ghazali mengulas dengan baik dibeberapa Kitab beliau dengan larangan terhadap jalan selainnya (qaul yang ketiga ini) .
-Tammat -
Huraian :
Daripada kenyataan As -Syawkani tersebut kita memahami:
Takwil Ijmali dan Tafsili ada dasarnya. Pengambilannya berasal daripada Ulamak Salaf yang terdiri dari Para Sahabat r. anhum.
2) Tanpa melakukan sebarang Takwil sebagaimana Kaedah yang dibawa oleh Salafi Wahabbi adalah merupakan kaedah golongan Mujassimah .
3) Perkataan Syawkani: أن لها تأويلا memahamkan:
a. “Bahawa ia mempunyai Takwil,” --------- Takwil Ijmali.
b. “Tetapi kami menahankan diri daripadanya serta membersihkan akidah kami daripada
tasybih dan takwil”,--------------------- Takwil Tafsili.
Wallahu a'lam.
fi AmaniLlah...
Tuesday, February 13, 2007
| [+/-] |
Risalah Menolak Fahaman Tajsim dan Akidah Syubhat. |
| [+/-] |
AHLUSSUNAH WALJAMA'AH |
Istilah Ahlussunah adalah sebuah istilah yg telah diberikan kepada Ummat pengikut As'ariyah wal Maturidiyah dlm i'tiqad yg telah dipesankan oleh Allah dan Rasulnye sbb:
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka-pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang
tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah maha luas
pemberian-Nya lagi maha mengetahui" (Q.S. al Maa-idah: 54)
Al Hafizh Ibnu 'Asakir dalam Tabyin Kadzib al Muftari dan al Hakim dalam al Mustadrak meriwayatkan bahwasanya ketika ayat tersebut turun, Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam menunjuk kepada Abu Musa al Asy'ari radliyallahu 'anhu seraya berkata: "Mereka adalah kaumnya orang ini"
Al Qusyairi mengatakan: "Pengikut Abu al Hasan al Asy'ari adalah termasuk kaumnya, karena ketika disandarkan suatu kaum kepada nabi, maka yang dimaksud adalah pengikut", ini juga disebutkan oleh al Qurthubi dalam Tafsirnya (Jilid: 6, h: 220)
Al Bayhaqi mengatakan: "Ini dikarenakan dalam hadits tersebut terdapat fadlilah yang agung dan derajat yang mulia yang dimiliki Imam Abu al Hasan al Asy'ari radliyallahu 'anhu, di mana beliau termasuk kaum Abu Musa al Asy'ari dan keturunannya yang diberi ilmu dan kepahaman khusus dibanding yang lainnya dalam membela sunnah, memberantas bid'ah dengan menampakkan hujjah dan membantah syubhat". Disebutkan oleh Ibnu 'Asaakir dalam Tabyin Kadzib al Muftari.
Al Bukhari dalam Shahihnya menyebutkan dalam "Bab Datangnya orang orang Asy'ari dan penduduk Yaman, Abu Musa al Asy'ari berkata dari Nabi shallallahu 'alayhi wasallam: "Mereka adalah bagian dariku dan aku dalah bagian dari mereka"
Kite bersyukur kepada Allah ta'ala atas aqidah sunni yang kita yakini sekarang ini, yang merupakan aqidah Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, aqidah yang para pemeluknya dipuji oleh Rasululah shallallahu 'alayhi wasallam, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al Hakim dengan sanad yang shahih:
"Konstantinopel (Istanbul sekarang) pasti akan dikuasai, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang berhasil manguasainya dan sebaik-sebaik tentara adalah tentara tersebut".
Dan Sang Penakluk adalah menaklukkan adalah Sultan Muhammad al Fatih al Maturidi rahimahullah,
beliau berakidah sunni, meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat, mencintai para sufi sejati, dan bertawassul dengan Nabi shallallahu 'alayhi wasallam. Keyakinan inilah yang dianut oleh ratusan juta umat Islam,
salaf maupun khalaf, di barat maupun di timur, dalam pengajaran maupun pendidikan, terbukti dengan kenyataan yang bisa disaksikan.
Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:
"Sungguh seorang hamba jika mengucapkan perkataan (yang melecehkan atau menghina Allah atau syari’at-Nya) yang tidak dianggapnya bahaya, (padahal perkataan tersebut) bisa menjerumuskannya ke (dasar) neraka (yang untuk mencapainya dibutuhkan waktu) 70 tahun (dan tidak akan dihuni kecuali oleh orang kafir)" (HR Tirmidzi)
Tajuddin as-Subki (W. 771 H) dalam kitab Thabaqat-nya (Jilid: 1, h: 91) mengatakan:
"Tidak ada perbedaan pendapat antara al Asy'ari dan para pengikutnya bahkan seluruh umat Islam bahwa orang yang mengucapkan kalimat kufur atau melakukan perbuatan kufur maka ia telah kufur kepada Allah yang Maha Agung dan akan kekal di neraka meski hatinya mengetahui
(meyakini yang benar)".
Dalam Kitab Jami' al 'Ulum Wa al Hikam karangan Ibnu Rajab (W. 795 H) ketika menjelaskan hadits tsb dikatakan:
"Sedangkan kekufuran, riddah, membunuh jiwa, mengambil harta tanpa hak dan semacamnya, hal-hal seperti ini tidaklah diragukan oleh seorang muslim-pun bahwa mereka tidak bermaksud bahwa orang yang sedang marah (dan melakukan hal-hal tersebut) tidak terkena konsekwensi hukumnya. Demikian juga hal yang dilakukan oleh orang yang sedang marah seperti talak, memerdekakan budak atau bersumpah, orang ersebut terkena konsekwensi hukum dari semua perbuatannya itu tanpa ada perbedaan pendapat".
Di antara contoh-contoh kekufuran yang disepakati adalah sebagai berikut:
Kufur keyakinan: Tempatnya adalah hati, seperti meyakini bahwa Allah adalah Nur dengan makna sinar atau cahaya, meyakini bahwa Allah adalah roh. Imam al Asy'ari (W. 324 H) mengatakan:
"Barangsiapa meyakini bahwa Allah adalah Jism; sesuatu yang memiliki bentuk dan ukuran maka dia tidak mengenal tuhannya dan ia masih kafir terhadap-Nya".
Imam al Mutawalli (W. 478 H) yang termasuk Ashhabul Wujuh
dalam madzhab Syafi'i mengatakan:
"Barangsiapa meyakini bahwa alam azali (ada tanpa permulaan), atau pencipta; yaitu Allah adalah baharu, atau menafikan sesuatu yang telah tetap bagi Allah sebagaimana disepakati oleh para ulama seperti bahwa Allah maha mengetahui dan maha kuasa, atau menetapkan apa yang dinafikan dari Allah dengan ijma' para ulama seperti warna atau menetapkan sifat berkumpul dan berpisah bagi Allah maka ia telah kafir".
Syekh Abdul Ghani an-Nabulsi (W.1143 H) berkata:
"Barangsiapa meyakini bahwa Allah memenuhi langit dan bumi, atau bahwa Allah adalah jisim yang duduk di atas 'Arsy, atau bahwa Allah menempati sesuatu atau menempati segala sesuatu, atau bahwa Allah menyatu dengan sesuatu atau segala sesuatu, maka orang ini kafir meskipun dia mengira atau menganggap dirinya muslim".
| [+/-] |
kesesatan kaum WAHABI |
Dibawah ini didatangkan contoh-contoh kesesatan mereka (wahabi),
(1)Wahabi mendakwa :
" Bahawa ALlah S.W.T ciptakan manusia sama dengan rupa bentukNya."
( Ruj: Aqidah Ahlul Iman Fi khalq Adam a`la Suratil Rahman : Mr Mahmud Al-Tuwaijiri eL-Wahabi M/s : 76) <<-- kitab ini dipuji oleh Ibnu Bazz al-wahabi.
(2)Wahabi mendakwa :-
"Perangilah golongan Sufi sebelum kamu memerangi yahudi , sesungguhnya sufi itu adalah roh yahudi"
3) Wahabi Mendakwa :-
"ALlah S.W.T istawa`(duduk) diatas arash"
(Ruj: Nazarot Wa ta`aqubat ala Ma fi Kitab Assalafiyah, Mr Soleh Fauzan eL-Wahabi, M/s:40. Darul Watan Riyadh)
(1)Wahabi mendakwa :
" Bahawa ALlah S.W.T ciptakan manusia sama dengan rupa bentukNya."
( Ruj: Aqidah Ahlul Iman Fi khalq Adam a`la Suratil Rahman : Mr Mahmud Al-Tuwaijiri eL-Wahabi M/s : 76) <<-- kitab ini dipuji oleh Ibnu Bazz al-wahabi.
Dalil menolak dakwaan mereka (wahabi).
Firman Allah S.W.T : ليس كمثله شئ ertinya : Dia (ALlah s.w.t) tidak menyerupai sesuatu pun dari makhlukNya.(Surah Asura ayat 11)
(2)Wahabi mendakwa :-
"Perangilah golongan Sufi sebelum kamu memerangi yahudi , sesungguhnya sufi itu adalah roh yahudi"
(Ruj: Majmu`ul Mufid Min A`qidatit Tauhid M/s: 102, Maktabah Darul Fikr, riyadh)
Dalil menolak dakwaan mereka :-
"من سن في الا سلام سنة حسنة فله اجرها واجر من عمل بها"
Barang siapa yg mengadakan didalam Islam perkara yang baik, baginya pahala dan pahala bagi mereka yang ber`amal dengannya.
(H/R: Imam Muslim)
"Thoriqah-2 sufi adalah benar kecuali yang menyeleweng daripada Al-Quran & As-Sunnah"
(3) Wahabi Mendakwa :-
"ALlah S.W.T istawa`(duduk) diatas arash"
(Ruj: Nazarot Wa ta`aqubat ala Ma fi Kitab Assalafiyah, Mr Soleh Fauzan eL-Wahabi, M/s:40. Darul Watan Riyadh)
Dalil Aqli pada menolakkan dakwaan mereka :-
Setiap perkara yang bersifat "DUDUK" di atas sesuatu perkara itu, sama ada kecil, besar atau barang sebagainya, semua itu adalah sifat-sifat bagi "jisim" yang berhajat kepada tempat (mengambil lapang @ ruangan). Maka mustahil ALlah S.W.T mempunyai persamaan atau bandingan.
Dalil Naqli :
قل هوالله احد * الله الصمد* لم يلد ولم يولد* ولم يكن له كفوا احد
"katakanlah (olehmu ya Muhammad s.a.w) Dia (ALlah s.w.t) itu Esa* ALlah tempat meminta (tumpuan segala hajat)* Tidak beranak dan tidak diperanakkan* dan Tidak ada persamaan (perbandingan) baginya dengan seorang juapun. (Al-Ikhlas ayat :1-4)
Sunday, February 04, 2007
| [+/-] |
Hadis Pertama - 40 |
Hadis Pertama
" Dari Amirul Mukminin Umar Al-Khattab r.a katanya : " Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : - ' Hanyasanya amalan-amalan itu adalah ( bergantung ) kepada niat, dan hanyasanya bagi setiap manusia itu apa ( balasan ) yang diniatkannya.
Maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang berhijrah kerana dunia yang ingin ia memperolehinya atau kerana seorang perempuan yang ingin ia menikahinya, maka hijrahnya itu adalah atas apa yang ia berhijrah kerananya.'
Saturday, October 28, 2006
| [+/-] |
CARA AHLI TASAUF/TARIQAT DALAM MENGENAL ALLAH |
CARA AHLI TASAUF/TARIQAT DALAM MENGENAL ALLAH
BAGI para ahli Tasauf/Tariqat ada cara tersendiri di dalam mengenal Tuhan. Mereka sama meletakkan dasar-dasar teori pengenalan Tuhan yang tidak bersifat rasional. Berbeda dengan dasar-dasar teori pengenalan Tuhan yang berlaku bagi kalangan ahli Theology Islam (Ilmu Tauhid) dan juga berbeda dengan yang berlaku bagi kalangan ahli syariat (Ilmu Fiqeh).
Bagi ahli Fiqah cara yang dipergunakan dalam mengenal Tuhan ialah dengan jalan keterangan dari dalil-dalil Naqli (Al-Quran dan Hadis). Di dalam memperkuat kepercayaan maka Al-Quran tidak dipergunakan sebagai alasan-alasan logika atau dengan penyelidikan akal fikiran seperti yang
terjadi di dalam falsafah. Berbeza dengan Ahli Kalam (Tauhid), di dalam cara mengenal Tuhan banyak mempergunakan jalan penyelidikan akal fikiran. Dengan dasar ini maka mengetahui siapa Tuhan, meskipun belum tentu mereka dapat menyaksikan Tuhan. Termasuk dalam golongan yang memakai cara ini ialah kaum "Failasof".
Lain halnya dengan ahli Tasauf/Tariqat, mereka dapat mengenal Tuhan melalui dasar-dasar teori perasaan hati lantaran Ilham yang dilimpahkan Allah ke dalam jiwa manusia sebagai bentuk wujud pemberian rahmat-Nya. Hal ini lazimnya dapat dicapai oleh manusia ketika ia telah dapat sampai ke jinjang diri peribadinya dilepaskan dari segala macam bentuk godaan hawa nafsu lampau dengan memusatnya fikiran ingat kepada Zat Yang Maha Kuasa.
Keadaan yang demikian ini mengakibatkan segala macam rahsia di balik hijab cahaya Allah dan Nabi-Nya dapat tersingkap oleh dirinya dan diketahui secara jelas pada penglihatan mata hati. Sebagaimana orang yang melihat air jernih yang berada di dalam gelas yang jernih pula, sehingga segala sesuatu yang ada di balik gelas yang jernih itu dapat dilihat dengan terang-benderang.
Huraian di atas memberikan penegasan bahawa kerana adanya perbezaan dasar-dasar pengenalan Tuhan yang berlainan di antara ahli Fiqeh dan ahli Tauhid dengan ahli Tasauf/Tariqat, maka selayaknya sering menimbulkan perbezaan di dalam cara menyelidiki Tuhan dengan segala akibatnya (daripada sesuatu perbuatan).
Akhir-akhir ini perbezaan tersebut mulai terungkap lagi di sana sini. Ada sementara orang yang berbicara manis soal Tasauf/Tariqat dengan penuh kelicikan menggunakan gaya "ahli pemberi fatwa agama", sering menyampaikan pendapat, baik pada lisan atau pun tulisan yang menganggap Ulama' ahli Tasauf/Tariqat dengan terang-terangan menyesatkan ummat terutama bagi para jamaahnya.
Perlu diketahui bahawa biasanya orang yang suka menggelabah jalan fikirannya sebagaimana anggapan negetif terhadap Ulama' Tasauf/ Tariqat itu adalah akibat adanya kekurangan pengertian terhadap masalahnya. Sedangkan faktor-faktor yang mendorong timbulnya fikiran semacam itu antara lain adalah sebagai berikut :
A. Adanya pendangkalan pengertian tentang Islam, seringkali hal ini menyebabkan Islam hanya dilihat dari satu dimensi tidak secara keseluruhan dan bulat.
B. Adanya ilmu-ilmu yang diperoleh tidak pada Guru Mursyid atau Syeikh, melainkan diambilkan dari hasil membaca buku-buku dengan upaya sendiri. Akibatnya jalan fikiran benyak dipengaruhi oleh hawa nafsu.
C. Mereka cenderung mengambil dasar-dasar fikiran di dalam mengungkap Islam justeru bersumber dari dasar-dasar fikiran kaum "rasionalis matrialisme", yakni fahaman yang beranggapan segala sesuatu dalam hidup harus dapat dipecahkan secara rasional dan dapat dilihat oleh pancaindera. Dasar teori "rasionalis matrialisme" inilah yang sering dipergunakan landasan berfikir kaum orientalis di dalam membahas tentang hal ke Timuran yakni tentang Islam dari berbagai aspeknya.
D. Mereka mudah mengeluarkan fatwa "Mari kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadis", tetapi mereka sendiri banyak menyimpang dari tuntutan yang semestinya tercantum di dalam Al-Quran dan Al-Hadis itu sendiri.
E. Adanya faktor alat-alat pelengkapan yang sangat dirasa kurang sekali, untuk keperluan mengadakan pembongkaran dan penelitian terhadap konstruksi bahasa Islam (Bahasa Arab). Seperti tidak menguasai Ilmu Lughat dengan Qawaidnya, Ilmu Hadis dengan Musthalahnya, Ilmu Balaghah, Badi', Bayan dan Ma'aninya, dan lain-lain. Akibat yang ditimbulkan oleh kekurangan ini ialah
mereka sering mengalami kesulitan di dalam memahami dan membahas kalam Al-Quran yang banyak berbentuk fasekh, baligh dan bahkan banyak yang majaz.
Faktor-faktor di atas itulah di antara penyebab mereka mudah tergelincir dalam kekeliruan yang tiada dirasa. Oleh kerana itu tidak mustahil mereka dengan mudah tanpa ambil pusing terus cepat-cepat melontarkan anggapan bahawa para ahli Tasauf/Tariqat adalah sebagai orang yang hanya akan
mengajak ummat atau jamaah untuk menjadi sesat dan bahkan dapat berakibat syirik dan kafir. Na'uzubillah himin zalik!
Padahal dengan penjelasan tentang dasar hukum dan tujuan Tasauf/Tariqat Mu'tabarah di muka tadi, adalah jelas sentiasa sesuai dan berdiri tegak di atas tuntunan dan petunjuk langsung baik dari Al-Quran maupun Al-Hadis.
Wallahu ta'ala a'lam.......
Wassalamu.......
